Hal yang membuat perhatian saya tertarik dimana pakar marketing yuswohady dari markplus.inc menulis buku tentang crowd marketing. Buku tersebut memaparkan bagaimana strategi pemasaran pada era informasi ini yang intinya adalah word of mouth marketing atau pemasaran dari mulut ke mulut baik online maupun offline. Menurut beliau word of mouth ini adalah strategi pemasaran yang paling efektif untuk sekarang dibandingkan dengan strategi lain dengan kata lain menggunakan prinsip “low budget, high impact”. Beliau mencontohkan perusahaan-perusahaan asing dan lokal yang berhasil meningkatkan penjualannya dengan strategi ini. Namu rata2 perusahaan tersebut adalah perusahaan-perusahaan yang besar asing sebut saja Microsoft, apple, dell computer, starbucks dan dalam negerinya adalah perusahaan sepeda polygon Dengan strategi seperti itu penjualan produk akan meningkat pesat tanpa sang penjual bekerja keras. Menurut beliau “biarkan konsumen yang bekerja keras untuk memasarkan produk kita” ya tentu saja dengan citra yan positif. Bagai pedang bermata dua, apabila sang penjual tercitrakan negatif maka kecenderungannya adalah tingkat penjualannya menurun bahkan tidak akan laku alias gulung tikar. Rata-rata perusahaan asing besar tersebut memanfaatkan jaringan online untuk mendorong penjualannya melalui situs online namun untuk memekasimalkanya mereka memanfaatkan komunitas dunia nyata alias offline dengan mensponsori atau meng-endorse komunitas tersebut. Pada buku tersebut mencontohkan perusahaan sepeda polygon yang mensponsori kegiatan pada komunitas bike 2 work. Pada intinya si penjual mendekatkan diri atau berinteraksi dengan konsumen sehingga meningkatkan citra positif yang kuat di benak konsumen. Akibatnya adalah masing-masing dari mereka menceritakan kepada keluarga, teman, kolega tentang produk sepeda polygon dengan cara online maupun
Saya melihat para pelaku UMKM terutama pengusaha Mikro juga telah mengimplementasikan strategi ini namun lebih sederhana. Di daerah saya ada toko matrial baru dimana sempat diprotes oleh pengusaha sejenis sekitar karena dia berhasil menjadi leader market dengan menjalankan strategi pemasaran ini. Rata-rata konsumen toko matrial adalah para pemborong atau tukang bangunan yang bekerja independen yang kebanyakan membeli bahan matrial karena disuruh majikan. Nah tipe konsumen seperti ini dimanfaatkan oleh sang toko matrial tersebut untuk menjadi ambassador tokonya. Strateginya sederhana dengan memberikan cash back kepada setiap konsumen yang belanja lebih dari 100 ribu berupa uang bagi yang tidak merokok. Para konsumen tersebut mendapatkan jumlah cash back tersebut bervariasi tergantung jumlah belanjaannya lebih banyak belanjaannya, lebih banyak juga cash back berupa rokok atau uang yang mereka dapatkan. Sebagai contoh apabila seorang konsumen berbelanja 100.000 sampai 250.000 mereka akan mendapatkan rokok sebanyak 2 bungkus atau uang sebanyak 20.000 dan otomatis apabila lebih dari itu maka mereka akan mendapatkan lebih. Akibat dari strategi pemasaran seperti itu para tukang saling menceritakan kepada tukang yang lain dengan tujuan demi membantu mendapatkan tambahan penghasilan kepada rekan sesama profesi. Alhasil loyalitas konsumen lama dan datangnya kosumen baru pun meningkat tajam, otomatis penjualan dari toko matrial tersebut pun meningkat drastis dan menjadi market leader di daerahnya.
Mari kita lihat dari sisi sang penjual. Apakah dengan menerapkan pola pemasaran seperti itu mereka mengalami minus marjin atau rugi? jawabannya adalah TIDAK. Mereka sudah mendapatkan selisih keuntungan dari setiap jenis barang yang terjual walaupun dengan jumlah yang sedikit. Peribahasa mengatakan “sedikit-sedikit akan menjadi bukit” itulah prinsip umum yang dipegang oleh toko matrial tersebut walaupun dapat keuntungan yang sedikit namun penjualan meningkat pesat dan cenderung akan menjadi market leader dalam waktu yang lama. Secara fisik terlhat perkembangan tersebut memiliki dua lahan kosong yang dijadikan gudang dengan bangunan semi permanen dan memiliki 1 unit mobil bak dan 2 unit mobil truck. Selain itu toko matrial tersebut selalu mendukung kegiatan keagamaan dan social, sebagai contoh menyumbang bahan bangunan untuk membangun atau merenovasi mesjid sekitar dan berbagai kegiatan didalamnya, memperbaiki jalan, sumbangan 17 Agustusan, dll.
Dengan demikian terbukti sudah strategi pemasaran Word of mouth marketing berhasil bukan saja pada perusahaan kelas besar namun pada UMKM seperti toko matrial tersebut. Apapun perusahaan atau usaha yang dijalankan apabila kita bisa memberikan nilai lebih kepada konsumen maka niscaya konsumen akan loyal akan bertambah dan penjualan pun akan meningkat.


No comments:
Post a Comment